Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
Risanja Risanja Risanja

will never lose The Shine

Risanja Risanja Risanja

will never lose The Shine

  • Home
  • Tentang
  • Tempat
  • Artikel
  • Berita
  • Teknologi
  • Home
  • Tentang
  • Tempat
  • Artikel
  • Berita
  • Teknologi
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Risanja Risanja Risanja

will never lose The Shine

Risanja Risanja Risanja

will never lose The Shine

  • Home
  • Tentang
  • Tempat
  • Artikel
  • Berita
  • Teknologi
  • Home
  • Tentang
  • Tempat
  • Artikel
  • Berita
  • Teknologi
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Home/Artikel/Sejarah Pura Dalem Balingkang
Artikel

Sejarah Pura Dalem Balingkang

August 17, 2026
0

Risanja.com – Pura Dalem Balingkang merupakan salah satu peninggalan sejarah dan situs suci yang memegang peranan pivotal dalam konstruksi kebudayaan, sejarah, serta peradaban masyarakat Bali. Berlokasi di wilayah Desa Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, pura ini tidak hanya dikenal sebagai tempat persembahyangan umat Hindu, melainkan juga sebagai simbol harmonisasi, toleransi, dan akulturasi budaya yang sangat kuat antara kebudayaan Bali Kuno (Hindu) dengan kebudayaan Tionghoa (Buddha/Konghucu).

Keberadaan Pura Dalem Balingkang menyimpan rekam jejak panjang mengenai dinamika politik kekuasaan, romantika kehidupan kerajaan, penataan tata ruang keraton masa lampau, hingga integrasi nilai keagamaan yang melampaui batas-batas etnisitas dan kebangsaan.

1. Etimologi dan Geografi Situs Pura Dalem Balingkang

Makna Nama

Secara etimologis, nama Pura Dalem Balingkang terbentuk dari beberapa pemaknaan kata dalam bahasa Jawa Kuno/Kawi dan Bali:

  • Pura: Berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti kota, benteng, atau tempat suci.

  • Dalem: Merujuk pada konsep tempat suci yang memuja manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dalam aspek pelebur (Pralina / Dewa Siwa), sekaligus merujuk pada kawasan istana (Keraton/Kedaton).

  • Balingkang: Merupakan gabungan kata dari Bali dan Kang. Kata Bali mengacu pada Pulau Bali atau masyarakatnya, sedangkan Kang merujuk pada nama permaisuri raja, yaitu Kang Cing We (seorang putri pedagang/saudagar Tionghoa). Secara substantif, Balingkang mengartikan penyatuan harmoni antara rakyat Bali dan permaisuri dari negeri Tiongkok.

Kondisi Geografis

Pura Dalem Balingkang terletak di sebuah lembah terpencil yang dikelilingi oleh perbukitan di kawasan pegunungan Kintamani, tepatnya di Desa Pinggan, Bangli. Secara topografis, kawasan ini berdekatan dengan Gunung Batur dan Danau Batur, yang dalam kosmologi masyarakat Bali dipandang sebagai wilayah hulu (Kaja) yang suci (Utama Mandala).

Pilihan lokasi yang berada di lembah terlindung ini berkaitan erat dengan strategi pertahanan militer dan politik kerajaan pada masa lampau, ketika pusat pemerintahan terpaksa dipindahkan akibat konflik pertikaian internal maupun pertimbangan spiritual.

2. Latar Belakang Sejarah: Era Kerajaan Bali Kuno dan Raja Sri Jayapangus

Sejarah Pura Dalem Balingkang tidak dapat dipisahkan dari era pemerintahan Kerajaan Bali Kuno pada abad ke-12 Masehi, khususnya pada masa kekuasaan Raja Sri Maharaja Haji Jayapangus Arkajadewa (sering disebut Raja Sri Jayapangus).

+-------------------------------------------------------------------------+
|                  SILSILAH & KONFLIK PUSAT KERAJAAN                      |
+-------------------------------------------------------------------------+
|  [ Puri Pejeng / Pura Pejeng ] (Pusat Awal Kerajaan)                    |
|                │                                                        |
|                ├──> Dinamika Sosio-Politik & Petunjuk Spiritual          |
|                │                                                        |
|  [ Benteng Balingkang / Desa Pinggan ] (Pusat Kerajaan Baru)             |
|                │                                                        |
|                └──> Penyatuan Tradisi Bali & Tionghoa (Kang Cing We)    |
+-------------------------------------------------------------------------+

Kepemimpinan Raja Sri Jayapangus

Raja Sri Jayapangus merupakan salah satu raja terbesar dalam sejarah Bali Kuno yang memerintah sekitar kurun waktu 1178 M hingga 1181 M. Beliau terkenal sebagai penguasa yang arif, bijaksana, serta meninggalkan banyak prasasti (sekitar 35 prasasti bertanggal Jawa Kuno) yang memuat berbagai ketetapan hukum, perpajakan, dan tata kehidupan sosial keagamaan.

Baca Selengkapnya  6 Sasaran Keselamatan Pasien / Patient Safety

Pada awal masa pemerintahannya, pusat kerajaan berada di wilayah Pejeng (Gianyar sekarang). Namun, atas petunjuk spiritual dan pertimbangan strategi keamanan kawasan, pusat pemerintahan kemudian dipindahkan ke kawasan perbukitan Kintamani dan dibangunlah benteng pertahanan serta keraton yang diberi nama Keraton Balingkang.

3. Akulturasi Budaya Bali dan Tionghoa: Kisah Sri Jayapangus dan Kang Cing We

Narasi paling fenomenal yang melandasi eksistensi Pura Dalem Balingkang adalah kisah perkawinan silang budaya antara Raja Sri Jayapangus dengan Kang Cing We, putri dari seorang saudagar kaya asal Tiongkok bernama Subandar yang berlayar dan berdagang di Pulau Bali.

Awal Pertemuan dan Pernikahan

Kedatangan para pedagang dari Tiongkok ke Pulau Bali telah berlangsung selama berabad-abad melalui jalur maritim. Dalam interaksi perdagangan tersebut, Kang Cing We ikut serta bersama ayahnya. Kecantikan, kecerdasan, serta keanggunan Kang Cing We memikat hati Raja Sri Jayapangus, yang kemudian memutuskan untuk mempersuntingnya sebagai permaisuri.

Pernikahan ini membawa dampak sosio-ekonomi dan budaya yang sangat luas:

  1. Pengaruh Arsitektur & Ornamen: Masuknya elemen Tionghoa dalam ragam hias seni bangunan dan pura di Bali.

  2. Sistem Perekonomian: Penggunaan uang kepeng (Pis Bolong) asal Tiongkok sebagai alat pembayaran sah yang kelak bertransformasi menjadi sarana vital dalam upacara keagamaan Hindu di Bali.

  3. Akulturasi Keagamaan: Penggabungan unsur penghormatan terhadap leluhur Tionghoa dalam tradisi pemujaan di pura.

+-------------------------------------------------------------------------+
|                 BENTUK INTEGRASI & AKULTURASI BUDAYA                   |
+-------------------------------------------------------------------------+
|  [ Uang Kepeng (Pis Bolong) ]  --> Sarana Pokok Upakara Hindu Bali     |
|  [ Pelinggih Ratu Niang Subandar ] --> Pemujaan Simbol Prosperity      |
|  [ Barong Landung ]            --> Visualisasi Jayapangus & Cing We     |
+-------------------------------------------------------------------------+

4. Legenda Danau Batur, Dewi Danu, dan Asal-usul Barong Landung

Kisah romantika Raja Sri Jayapangus dan Kang Cing We dibalut oleh narasi mitologis yang diturunkan secara turun-temurun melalui sastra lisan dan lontar di Bali, seperti Lontar Barong Landung dan Lontar Usana Bali.

Kemandulan Permaisuri dan Perjalanan ke Danau Batur

Meskipun kehidupan pernikahan Raja Sri Jayapangus dan Kang Cing We diliputi kebahagiaan dan kemakmuran, pasangan ini tak kunjung dikaruniai keturunan. Untuk memohon keturunan dan melakukan pertapaan, Raja Sri Jayapangus melakukan perjalanan spiritual ke kawasan Danau Batur.

Pertemuan dengan Dewi Danu

Di kawasan Danau Batur, Raja Sri Jayapangus bertemu dengan penguasa kesucian dan kesuburan Danau Batur, yaitu Dewi Danu. Terpesona oleh kecantikan Dewi Danu, Sang Raja kemudian menikahinya tanpa memberitahukan bahwa beliau telah memiliki permaisuri di Keraton Balingkang. Dari pernikahan dengan Dewi Danu, lahir seorang putra bernama Mayadanawa (dalam versi tradisi lokal juga dihubungkan dengan figur Shri Maya Danawa).

Baca Selengkapnya  Mengenal SKP yang Pertama : Ketepatan Identifikasi Pasien

Kemurkaan Dewi Danu dan Kutukan Menjadi Barong Landung

Kang Cing We yang merasa kehilangan sang suami melakukan pencarian hingga ke kawasan Batur. Betapa terkejutnya Kang Cing We saat menemukan Raja Sri Jayapangus telah bersanding dengan Dewi Danu. Perselisihan hebat tak terelakkan.

Dewi Danu yang merasa dibohongi bahwa Sri Jayapangus telah bersuami, merasa murka. Dengan kesaktiannya, Dewi Danu mengutuk (sepa) Raja Sri Jayapangus dan Kang Cing We hingga tubuh keduanya terbakar dan berubah menjadi patung kayu hitam yang tinggi besar.

Melihat musnahnya sang raja dan permaisuri, rakyat Keraton Balingkang merasa sedih dan kehilangan pemimpin terkasih mereka. Untuk mengenang serta mengabadikan wujud sang raja dan permaisuri, dibuatlah simbolisasi dalam bentuk pratima tinggi besar yang dikenal hingga saat ini sebagai Barong Landung:

  • Jawa Delem / Jero Gede: Visualisasi dari Raja Sri Jayapangus yang berwajah hitam, bertubuh tinggi besar, dan memiliki taring.

  • Jero Luh: Visualisasi dari Permaisuri Kang Cing We yang berwajah putih, bermata sipit, dan tersenyum khas wanita Tionghoa.

5. Arsitektur dan Struktur Tata Ruang Pura Dalem Balingkang

Pura Dalem Balingkang didirikan di atas bekas benteng istana Keraton Balingkang. Struktur arsitekturalnya mengikuti konsep Tri Mandala, yaitu pembagian zonasi tata ruang suci berdasarkan tingkat kesucian:

+-------------------------------------------------------------------------+
|                  STRUKTUR ZONASI PURA (TRI MANDALA)                    |
+-------------------------------------------------------------------------+
|                                                                         |
|  [ UTAMA MANDALA ]   --> Pelinggih Utama, Gedong, Kongco / Subandar     |
|           ▲                                                             |
|           │ (Candi Centar / Bentar Internal)                             |
|  [ MADYA MANDALA ]   --> Bale Bale, Bale Kulkul, Bale Agung             |
|           ▲                                                             |
|           │ (Candi Bentar Utama)                                        |
|  [ NISTA MANDALA ]   --> Pelataran Luar, Parkir, Hutan Lindung Benteng   |
|                                                                         |
+-------------------------------------------------------------------------+

A. Nista Mandala (Jaba Pisan)

Merupakan pelataran paling luar pura yang berfungsi sebagai area transisi, tempat persiapan sarana piodalan, serta area pemarkiran dan perlindungan fisik berupa bekas dinding benteng tanah/batu kuno yang mengelilingi kawasan istana Balingkang.

B. Madya Mandala (Jaba Tengah)

Merupakan pelataran tengah yang digunakan untuk kegiatan persiapan upacara keagamaan, pementasan tari-tarian sakral (seperti Tari Rejang dan Baris), serta berdiri bangunan penunjang seperti:

  • Bale Kulkul: Tempat menggantungkan kayu kentongan sakral.

  • Bale Gong: Tempat persemayaman perangkat gamelan pengiring upacara.

  • Bale Agung: Tempat musyawarah para pemangku dan krama penyungsung pura.

C. Utama Mandala (Jeroan)

Merupakan zona paling suci tempat berdirinya berbagai pelinggih (bangunan suci pemujaan). Keberadaan pelinggih di Utama Mandala Pura Dalem Balingkang menunjukkan karakter unik akulturasi budaya:

  1. Pelinggih Utama (Gedong Dalem Balingkang): Pemujaan terhadap manifestasi Tuhan dalam aspek Dewa Siwa dan penghormatan kepada roh suci Raja Sri Jayapangus.

  2. Pelinggih Ratu Ayu Mas Subandar / Kongco: Pelinggih khas berpola arsitektur Tionghoa yang didominasi warna merah dan kuning emas, dilengkapi Lampion, Altar Pemujaan Kongco, serta Incense Burner (Tempat Hio). Pelinggih ini didedikasikan untuk memuja Ratu Subandar (Ibunda / Keluarga Kang Cing We) sebagai simbol pendoa keselamatan, kemakmuran, dan kelancaran rezeki/ekonomi.

  3. Pelinggih Dewi Danu & Sri Sedana: Bangunan pemujaan untuk memohon kesuburan, kelimpahan pangan, dan kelestarian alam.

Baca Selengkapnya  Akhirnya Penantian 1,5 Tahun Lunas! Ogoh-Ogoh 'GAJAH' Karya Kedux Sukses Guncang Panggung D'Youth Fest 6.0

6. Nilai-Nilai Multikulturalisme dan Toleransi Beragama

Pura Dalem Balingkang merupakan bukti empiris bahwa toleransi beragama dan multikulturalisme telah mengakar kuat di Bali sejak abad ke-12.

+-------------------------------------------------------------------------+
|                 DIMENSI TOLERANSI DI PURA BALINGKANG                    |
+-------------------------------------------------------------------------+
|  1. SARANA UPAKARA   : Penggunaan Pis Bolong & Hio/Dupa bersamaan.  |
|  2. PENYUNGSUNG      : Krama Hindu Bali & Umat Etnis Tionghoa/Buddha.  |
|  3. KODE BUSANA      : Penggabungan Pakaian Adat Bali & Warna Merah.   |
+-------------------------------------------------------------------------+

Sintesis Ritual dan Peribadatan

Pura ini tidak hanya dikunjungi oleh umat Hindu Bali, melainkan menjadi destinasi peziarahan spiritual penting (Tirtha Yatra) bagi warga keturunan Tionghoa (Konghucu/Buddha Mahayana). Dalam setiap ritual besar (Piodalan):

  • Umat Hindu haturkan canang sari, pejati, dan banten.

  • Umat Tionghoa bersembahyang menggunakan hio (dupa merah), membakar kimzhua (kertas emas/perak), dan mempersembahkan buah-buahan.

  • Kedua tradisi peribadatan berjalan bersisian secara harmonis tanpa timbul gesekan dogma.

7. Pujawali, Piodalan, dan Makna Bagi Masyarakat Modern

Jadwal Piodalan

Piodalan atau hari jadi Pura Dalem Balingkang jatuh pada Purnama Kapat (hari bulan purnama pada bulan keempat dalam kalender tradisional Bali, sekitar bulan September–Oktober). Pada saat puncak perayaan pujawali, ribuan umat dari seluruh pelosok Bali dan luar pulau berbondong-bondong datang memohon kerhayuan (keselamatan), kerharja (kesejahteraan), dan pencerahan spiritual.

Relevance di Era Modern

Di tengah dinamika zaman dan potensi disintegrasi sosial, keberadaan Pura Dalem Balingkang memancarkan pesan perdamaian universal:

  • Penguat Identitas Kebudayaan Bali: Mengingatkan generasi muda akan sejarah panjang dinamika politik dan kebudayaan Bali Kuno.

  • Simbol Kebhinnekaan: Menjadi bukti konkrit bahwa keberagaman etnis dan agama adalah kekayaan peradaban yang wajib dijaga, bukan alasan perpecahan.

Pura Dalem Balingkang di Kintamani, Bangli, bukan sekadar situs peninggalan purbakala berwujud batu dan kayu, melainkan monumen hidup peradaban Bali Kuno. Melalui jejak sejarah Raja Sri Jayapangus dan Permaisuri Kang Cing We, Pura Dalem Balingkang mengajarkan keterbukaan, toleransi, dan harmonisasi nilai antarperadaban yang terus relevan menembus lintas zaman.

Artikel sejarah ini disusun secara ilmiah-populer sebagai referensi komprehensif edukasi kebudayaan dan dokumentasi sejarah lokal untuk platform Risanja.com.

Tags:

BudayaCulture
Unknown's avatar
Author

Risanja Creative

Risanja adalah transformasi media creative yang dimulai dari pulau dewata. Membawa konsep Surya Risanja menjadi media informasi kreatif, inovatif dan terlengkap, seputar Budaya, Ekonomi, Teknologi, Kesehatan.

Follow Me
Other Articles
Previous

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Buleleng

Next

Kabar Gembira Buat Mancing Mania! Ramaikan Lomba Mancing STT. BINEKA ke-61 di Banjar Binoh Kaja

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tentang Kami

Risanja adalah tranformasi platform informasi dengan gaya yang segar untuk menyajikan informasi terkini.

Search

What New

  • “Kena Musibah” Tumpahan B3? Jangan Panik, Ini Jurus Cepat Mengatasinya!
  • Mengupas Makna “Tresna Lintas Planet” Nanoe Biroe
  • Serentak Ngebor Ibu Pertiwi, Untuk Tenggelamkan Anak Cucu Kita di Bali
  • Ary Kencana, Bangkit Dengan Konsistensi dan Rajai Panggung Sampai Upacara Adat Pulau Dewata di Tahun 2026
  • Gema Mantra di Shibuya: Puncak Perjuangan dan Sisi Spiritual Tour Beduda Ngurek Jepang Nanoe Biroe

Powered by

Recent Posts

  • “Kena Musibah” Tumpahan B3? Jangan Panik, Ini Jurus Cepat Mengatasinya!
  • Mengupas Makna “Tresna Lintas Planet” Nanoe Biroe
  • Serentak Ngebor Ibu Pertiwi, Untuk Tenggelamkan Anak Cucu Kita di Bali
  • Ary Kencana, Bangkit Dengan Konsistensi dan Rajai Panggung Sampai Upacara Adat Pulau Dewata di Tahun 2026
  • Gema Mantra di Shibuya: Puncak Perjuangan dan Sisi Spiritual Tour Beduda Ngurek Jepang Nanoe Biroe

Archives

  • September 2026 (19)
  • August 2026 (18)
  • July 2026 (33)

Tentang Kami

Selamat datang di Risanja.com adalah sebuah ekosistem modern yang dirancang khusus untuk generasi muda, kreator konten, dan para pencari inspirasi.

Copyright 2026 — Risanja. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme